Tombus Na Mardalani i Pulo Samosir




Perjalanan yang sangat luar biasa menarik, menyenangkan, tidak dapat terlupakan, dan cukup melelahkan bisa kami lakukan mengelilingi Pulau Danau Toba dalam waktu 3 hari 2 malam. Perjalanan yang menambah coretan didalam buku kehidupan kami. Personilnya gak banyak-banyak hanya ada 8 orang yaitu: Canggih Gultom, Toga Gultom, Sahat Gultom (Trio Gultom) :), Qwantes Simatupang, Tumpal Simanjuntak, Genesis Banjarnahor, dan Eko Silitonga. Owh ya kurang satu ya? Tau la siapa khan? :p Gak perlu disebut karena kata mereka aku hanya seorang sewa batu. Wkowkowko…

Perjalanan kami bermula dari Pelabuhan Balige menuju Nainggolan. Tak lupa juga kami sebutkan Edelina Parhusip yang kami temukan sedang berlayar dengan kami ke tempat tujuan yang sama. Maklum la itu kampung Iban awak yang unyuk-unyuk tersebut. wkwkwkk… πŸ˜› Setelah kami sampai di Nainggolan, hujan rintik-rintik pun menyambut dengan ramahnya. Maklum hujan merupakan simbol berkat bagi sebagian orang termasuk saya. πŸ™‚

Di Nainggolan kami menginap di rumah saudara kami tercinta Toga Gultom yang tepatnya rumahnya didepan Gereja Katolik dan disebelah rumahnya merupakan Danau Toba. Apa gak asik tuh? Bisa tiap ari berenang di Danau Toba. Pengen kali suatu saat nanti memiliki rumah yang tepat di Pinggir Danau Toba. Pasti menyenangkan.

Rembulan pun datang menyapa dan itu artinya mata pun harus dipejamkan untuk persiapan perjalanan besok. Ternyata untuk tidur kami pun harus rela bersusun ikan rebus bayangkan saja tempat tidur yang ukuran 3x4nya tahe 2 buah digabungkan dan harus menampung 6 orang dengan badan yang cukup besar-besar lah. Tapi Puji Tuhan juga kami bisa tidur nyenyak walaupun harus merelakan untuk perpindahan 1 orang dari tempat tidur yang empuk itu. πŸ˜›

Sang matahari pagi pun malu-malu menampakan wajahnya. Kami pun mulai bergerak dan bergegas untuk menapaki perjalanan yang sangat diidam-idamkan. πŸ™‚ Perjalanan pun bermulai dari Nainggolan mengelilingi keseluruhan Pulau Samosir dalam dan dilanjutkan ke Tele untuk mengelilingi Pulau Samosir luar. Tapi karena sudah sangat malam ditambah lagi kesialan menimpa salah satu kendaraan yang terkena paku di perbatasan Tele ke Sidikalang. Untuk ada seorang opung yang baik hati mau memperbaiki dan mengantikan ban tersebut.

Akhirnya dengan perjuangan yang sangat berat dikarenakan suhu yang sangat dingin dan membuat seluruh tubuh mengigil. Karena sudah sangat lapar kami memutuskan untuk mengisi kebutuhan jasmani dulu baru mencari penginapan yang sesuai kocek. Kondisi Sidikalang pada saat itu sangat ramai sekali maklum pada saat itu merupakan malam takbiran yang dimeriahkan oleh pemuda-pemudi Sidikalang dengan menggunakan kendaraan bermotor mereka di jalan utama Sidikalang.

Dunia pun sudah semakin cerah setelah mengisi kebutuhan jasmani dan akhirnya mata pun sudah semakin lelah karena pengen segera istirahat ditengah suhu Sidikalang pada saat itu sangat dingin. Akhirnya dengan jiwa yang sabar akhirnya kami menemukan tempat peristirahatan dengan nama Penginapan Cendrawasih. Karena memang sudah sangat lelah aktivitas pun tidak banyak lagi dilakukan.

Pagi kembali datang dan kondisi Sidikalang masih dalam keadaan berkabut. Sangat cocok untuk tidur lagi lah. Tapi tidak mungkin perjalanan harus dilanjutkan ke Taman Iman Sidikalang, ke Pantai Tao Silalahi, Tongging, dan Air terjun Sipiso-piso. Kami cukup terkejut dengan kondisi Penginapan yang hampir semua tiap sudut dari lokasi penginap dihiasi dengan kamera CCTV. Wewww, Penginapan opo ini??? Sudahlah yang pastinya malam telah berlalu dan kami harus lanjut kembali kepada tujuan perjalanan kami.

Hari-hari pun kami jalani sesuai dengan rute perjalanan yang sudah kami putuskan setelah dari Taman Iman kami melanjutkan perjalanan dan ditengah perjalanan tersebut ada sebuah objek wisata dengan nama “Aek Sipaulak Osa”. Mendengar kata ini saya berpikir air tersebut dapat menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal. Tapi ternyata pikiran saya salah, air tersebut merupakan sebuah sumber air yang sangat segar dan dipercaya dapat menghilangkan rasa lelah selama perjalanan. Dan memang cukup berpengaruh sih setelah cuci muka di air sejuk ini. Luar biasa sejuknya sampai keubun-ubun otak. πŸ™‚

Lanjut kembali ke perjalanan kami menuju Tao Silalahi dan Tongging yang begitu indah sayangnya kondisi cuaca tidak mendukung untuk pengambilan gambar. 😦 Tujuan terakhir yakni Air Terjun Sipiso-piso. Tapi sayangnya tidak ada yang berani menuruni sampai ke bawah karena katanya sih sangat jauh dan pastinya kaki akan gempor cek. πŸ˜€

Setelah semua lokasi yang sudah kami rencanakan dilewati maka kami bergegas kembali menuju Nainggolan tetapi melalui Pelabuhan Tigaras menuju Pelabuhan Simanindo. Akhirnya malam pun tiba dan kami sampai dengan selamat di Nainggolan.

Boti ma cerita perjalanan ini, cukup ganjang dan lumayan susah dijelaskan secara detail. Kami dari redaksi penulis mengucapkan selamat hari raya bagi yang merayakan. πŸ™‚

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: