Buang Sial Lepas dari Mulut Harimau masuk ke Mulut Buaya


0b6782e81e0211e2b55122000a1f9be7_7Wah sudah lama tidak menulis lagi di dunia virtualku ini… Pasti banyak juga dari teman-teman menunggu-nunggu artikel atau tulisan yang aku postingkan??? Hehee 😀 *narsis euy

Sebenarnya cukup susah merangkai kata-kata disaat seseorang dilanda kesialan… Ibaratnya kayak peribahasa “Mengelak dari mulut harimau masuk ke mulut buaya”. Begitulah keadaan yang kualami di Kota Bandung nan permai ini. Bermula dari seorang teman yang mulai dikenal dari pesta pernikahan teman SMA di daerah dago atas. Atas dasar event itu lah perkenalan kami bersama Jo##a.

Entah kenapa hari jumat tanggal 08 Februari 2013 aku menanyakan kabarnya bagaimana dan gimana kuliahnya. Ya maklum la sesama teman na halak hita di perantauan ini. Ya ternyata ntah kenapa dia pun jadi curhat menyatakan untuk meminjam duit sebesar 1 juta rupiah untuk keperluan kuliahnya. Sebenarnya perasaan saya saat itu antara hibah dan acuh karena yang pastinya uang itu sudah digunakan untuk hal yang tidak sepantasnya dan disatu sisi sedih juga ketika kita terpuruk jatuh teman-teman menjauh tidak ada pertolongan disaat kondisi perkuliahan hanya tinggal 1 semester lagi. Begitulah alkisah dari kehidupannya. Dalam kondisi saat itu aku pun dengan baik hati memberikan pertolongan ya dengan jaminan yang bisa dipercaya tentunya. Tapi apa yang terjadi, aku selalu menunggu dia mulai hari sabtu dan minggu untuk memberikan pertolongan agar dapat melunasi uang kuliahnya. Ternyata ujung rambutnya pun tak kunjung terlihat, dia hanya mengirim pesan lewat SMS dan WhatsApp memberitahu dia lagi sibuk mengurus penangguhan uang kuliahnya dan sibuk mengantar saudaranya.

Dari kejadian itu rasa simpatik pun sudah memudar, rasa ketidakinginan untuk memberikan bantuan pun semakin besar semenjak dia belum bisa memutuskan jaminan yang akan diberikan, hingga pada suatu hari aku jenuh dan memutuskan untuk menon-aktifkan HP agar tidak dapat dihubungi oleh teman tersebut. Tepatnya hari senin aku mengaktifkan kembali HPku dia masih tetap ngotot untuk meminjam duit dan memastikan jaminan dan waktu pengembalian uangnya bulan 3 awal. Tetapi rasa kepercayaan yang sudah ada sudah sirna mulai dari minggu kemarin. Aku pun sudah tidak mengacuhkan SMS dan Telpon teman tersebut.

Hari pun menjelang siang dan HPku pun berdering kembali. Saat itu aku sebenarnya malas untuk melihat atau mengecek HPku. But, aku melihat ternyata bukan dari jo##a, tetapi dari nomor yang tidak terdaftar di phonebookku. Singkat cerita saya pun mengangkatnya dan ternyata dia adalah teman SMP yang sudah lama tidak berjumpa dan katanya lagi di Bandung. Wah dengan baik hati aku menyambut agar dia rela meringankan langkahnya untuk singgah di kostku yang hina ini. Itulah pikiran yang terlintas saat itu.

Dia pun mengiyakan sambutan baikku tersebut. Akhirnya malam tepatnya 11 Februari 2013 Jam 18.25 WIB dia pun datang ke kostku dengan menyandang tas dan beralaskan sandal swallow. Walaupun awal kehadirannya membuat emosi karena katanya sudah berada di depan rumah no. 58 tetapi saya cari dan lihat tidak ada orang. Ternyata dia masih diujung gang perjalanan.

Saya pun mengundang dia masuk ke dalam kamar kost saya yang kecil nan berantakan itu. Kami pun bercerita-cerita tentang pengalaman masa lalu kami semasa SMP dan juga bercerita tentang politik yang terjadi di dunia pertiwi Indonesia ini. Akhirnya kelaparan pun terjadi dan kami memutuskan untuk makan keluar. Saat itu aku bingung menyimpan dompet dimana gak enak juga kalo tamu yang datang yang membayar uang makan. Tetapi karena sang dompet pun tak muncul nongol maka dia pun memutuskan untuk membayarkan uang makanku. Kami pun berangkat makan ditempat yang sama sekali belum pernah aku makan sebelumnya. Ya kami pun memesan makanan ala kadarnya untuk menghilangkan rasa kelaparan yang melanda.

Akhirnya kami pun kembali ke kost dan melanjutkan pembicaraan kami sampai jam 02.00 WIB Dini Hari tepatnya sudah hari Selasa, 12 Februari 2013. Sepanjang percakapan yang terjadi kami berencana pada hari ini akan jalan-jalan di Bandung tepatnya di Trans Studio Bandung yang notabene belum aku jalani semenjak aku berada di kota kembang ini. Aku sebenarnya antara malas dan penasaran karena disatu sisi aku belum pernah kesana dan disisi lain ada tugas perkuliahaan yang harus aku benahi. Tetapi ternyata rasa penasaran lebih tinggi mengalahkan rasa malasku itu.

Pagi itu aku sebenarnya tidak bisa nyenyak tidur bukan seperti biasanya ketika aku tidur tidak ada hal yang dapat mengganggu tidurku alias aku tidur uda kayak orang mati la. Tetapi saat itu berganti aku jadi tidur ayam/manuk-manukon… Gak nyenyak antara kondisi penasaran dan rasa was-was juga sebenarnya bagaimana jika saat aku tidur dia membawa dan menggondol semua barang-barang berhargaku. Ternyata tidak ada terjadi apa-apa sampai jam 07.00 WIB datang menyambut.

Kami pun sudah bangun dan masih sempat bercerita tentang pengalaman yang pernah dia rasakan pada saat di Trans Studio tersebut. Ya aku hanya bisa angguk-angguk geleng-geleng mendengar dia bercerita ya karena aku belum pernah juga kesana. Aku ibarat orang udik yang hanya bisa mendengar semua cerita tentang Trans Studio Bandung tersebut. Aku sebenarnya sudah menghilangkan rasa curiga dan was-wasku karena semua hal yang kupikirkan tidak terjadi.

Hingga tiba saat-saat dimana aku berbuat kesalahan yang fatal yang berujung aku kehilangan sebagian barang-barang pentingku. Yakni saat dimana aku mandi dan aku membiarkan dia sendiri di kamarku dengan kondisi semua barang-barang berletakan di meja belajar dan lemari pakaian. Saat aku mandi aku tidak membayangkan hal buruk yang akan terjadi aku hanya menikmati mandi di pagi yang memang mendung. Air dingin yang menyentuh pori-pori kulit sangat terasa menusuk badan sehingga membuat kesegaran yang sangat.

Setelah mandi aku pun dengan semangat ke kamar untuk melanjutkan pengalamanku pergi mengunjungi Trans Studio yang sudah kubanyangkan sejak bangun tadi. Langkah pun berjalan tidak ada rasa berat dan cemas sama sekali hanya kondisi yang bahagia akan menyambut hari yang akan indah. Tetapi hal tersebut berbalik ketika aku sudah tidak menemukan sandal teman SMPku tersebut didepan kamar dan aku spontan berlari ke dalam kamar memastikan apakah dia masih tetap ada atau tidak. Sontak jantung dan pikiranku sangat kacau kala itu disaat aku tidak menemukan temanku tersebut dan lebih parahnya lagi aku tidak melihat si merah dan si camsung lagi di kamar. Antara sadar dan sangat kecewa saat itu melanda aku pun berlari sekuat tenaga untuk mengejar temanku tersebut, pikiran kosong dan yang ada saat itu mengejarnya dan kalau tertangkap menghajarnya sampai babak belur. Tapi ternyata aku sudah terlambat, jejaknya pun sudah tidak bisa kutemukan lagi.

Suasana kacau, berantakan, galau, bingung, kecewa, emosi, dan semua aura negatif pun masuk ke dalam badan ini seakan-akan berpikir tidak ada gunanya lagi untuk melanjutkan pengejaran karena memang tidak terlihat lagi batang hidungnya. Aku pun berusah kembali ke kamarku untuk memastikan barang-barang apa saja yang hilang. Disepanjang perjalanan aku pun merasa sangat tidak bergairah lagi untuk melangkah dan menjalani jalan setapak tersebut. Rasa kosong dipikiran yang ada saat itu. Hanya bisa diam dan berusaha menenangkan pikiran.

Setibanya aku ke kost aku melihat si Merah (Laptop DELL), HDD 1 Tera, HP Samsung, HP Nokia, 2 Nokia yang series rendah, 2 modem pun raib hilang bersama power bank. Pikiran yang kacau dan tidak dapat berbuat apa-apa lagi hanya bisa membanguni teman sekost Edwin Sijabat untuk memberitakan hal yang sudah terjadi. Aku saat itu hanya bisa terdiam dan memang pikiran kosong yang ada. Aku hanya berpikir cara untuk mengembalikan dan merubah waktu agar aku tidak berniat untuk pergi ke Trans Studio Bandung, agar rasa malasku yang lebih dominan dari rasa penasaran. Saat-saat dimana aku tidak menolak membantu teman Jo##a yang dikala itu membutuhkan bantuan, dimana saat-saat yang akhirnya tidak menyentuh kata kehilangan barang-barang yang penting tersebut.

Tidak hanya barang sebenarnya hilang, data penting pun sebenarnya raib disana semua file dan dokumenku selama kuliah dan nomor HP saudara-saudara dan teman-teman hilang juga pada hari yang sial itu. Aku hanya bisa berpikir bagaimana solusi dari semua ini. Aku pun memutuskan untuk segera berpikiran jernih dan mencoba menenangkan pikiran kembali karena tidak memungkin aku berpikiran baik saat kondisi seperti itu. Aku hanya bisa memutuskan untuk membeli kembali semua barang yang bisa kubeli dengan uang tabungan yang kupunyai. Aku pun untuk memutuskan untuk menghubungi saudara yang semarga dengan aku di Bandung ini, yaitu Oktavianus Turnip. Adek sekaligus teman yang kuharapkan dapat membantu aku untuk keluar dari permasalahan ini. Walaupun memang perjumpaan kami lumayan aneh dan sangat tiba-tiba. Tapi aku percaya memang Tuhan itu selalu menjaga dan memberikan pertolongan kepada anak-Nya. Akhirnya okta pun datang dengan kondisi basah kuyup yak arena memang kondisi hujan yang melanda kota Bandung saat itu.

Saat kedatangannya pun aku masih hanya bisa diam dan mencoba keras untuk berpikiran jernih agar hal-hal yang bisa diperbaiki sebaiknya segera diperbaiki. Saat itu aku hanya memutuskan untuk membeli laptop dan modem terlebih dahulu karena memang itu yang sangat kuperlukan saat ini. Aku juga memikirkan nomor HPku yang biasa dihubungi teman-teman dan saudara-saudaraku agar dapat kugunakan kembali. Hujan pun reda, dan kami melanjutkan seharian penuh untuk melakukan semua hal yang sudah kurencanakan.

Semua perlengkapan yang sudah direncanakan sudah terpenuhi dan akhirnya sore menjelang malam pun datang dan kami memutuskan untuk pulang kembali ke kost. Saat malam pun datang, rasa humoris yang dimiliki Edwin, Okta, dan tidak lupa kekasih hati Reybekka pun berbaur sehingga cukup mengobati rasa dan pengalaman yang lumayan buruk dalam perjalanan kehidupanku. Tersadar aku memang sudah makin menjauh dari Tuhan selama aku menginjakan kaki di kota Bandung ini. Bisa dihitung jari aku berapa kali ke Gereja selama aku berada di kota ini. Terimakasih banyak buat semua orang yang tidak dapat aku sebutkan satu persatu, sungguh sangat indah ketika dalam terpuruk banyak sokongan dan dukungan yang dapat menguatkan jiwa ini kembali. Semoga pelaku kejahatan ini, tidak melakukan kejahatan yang sama kepada orang lain.

Ditengah kesialan yang terjadi aku memutuskan untuk memotong rambut dan juga sesuai dengan kekasih hati. Kata “Oni wa soto!  Fuku wa uchi”. Kalimat itu berarti “Yang jahat harus dikeluarkan/dibuang diluar, sedangkan Anugrah/keberuntungan yang baik masuk ke dalam”. Menjadi kutipan yang aku dapat ambil dari situs kompas.com.

Pelajaran Hidup:

–          Jangan terlalu mempercayai orang yang tampaknya baik, selalu lah tetap waspada dan jangan memberikan kesempatan kepada seseorang untuk melakukan kejahatan karena dengan ada kesempatan dia akan berani melakukan perbuatan jahatnya tersebut.

–          Teman merupakan sahabat dimana kita memerlukannya disaat kita bahagia bahkan disaat kita sedih disitu la kita dapat mengartikan makna persahabatan itu sendiri.

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s